Pengamatan Virtual Langit Malam

Selamat datang di halaman Pengamatan Virtual Langit Malam (PVLM). Mari bergabung bersama kami dalam menjelajahi langit malam, mengamati objek-objek langit melalui salah satu teleskop di Observatorium Bosscha dan mengupas topik-topik astronomi menarik. Episode-episode mendatang akan diumumkan di media sosial sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan. Anda juga dapat menonton kembali episode yang telah dilaksanakan pada kanal YouTube kami. Terima kasih telah menonton! Salam langit gelap, salam langit untuk semua.

Bagaimana menyaksikan PVLM 2022?

Arsip

Episode 01 - Gugus Bintang sebagai Petunjuk Jejak Evolusi Bintang
Sabtu, 27 Agustus 2022

Dalam kondisi langit malam yang bersih, kita melihat bintang tersebar di seluruh penjuru langit, seperti tidak beraturan. Nyatanya, terdapat bintang-bintang yang berkelompok akibat gravitasi di antara mereka. Kelompok-kelompok ini dikenal sebagai gugus bintang. Beberapa gugus bintang cukup terang di langit dan bisa diamati dengan mata saja sehingga jenis kelompok bintang ini sudah dikenali sejak dahulu, seperti Pleiades. Berada di dalam ruang yang sama, gugus bintang memberikan petunjuk kepada astronom bahwa bintang-bintang yang berada di dalam gugus terbentuk pada waktu yang bersamaan. Gugus bintang menyediakan contoh atau sampel bintang yang sangat banyak yang kemudian digunakan untuk menyusun cerita besar tentang siklus hidup bintang.

Narasumber:
  • Dr. rer. nat. M. Ikbal Arifyanto, S.Si., M.Sc.
  • Denny Mandey, M.Si.
Episode 06 - Pengamatan Bintang Variabel
Sabtu, 2 Oktober 2021

Setelah pengamatan ratusan hingga ribuan tahun, hal yang tidak terlewatkan oleh mata para pemerhati langit adalah berkerlap-kerlipnya bintang di malam hari. Menariknya, benda-benda yang cenderung lebih dekat terhadap kita tidak mengalami hal yang sama. Pada umumnya, kerlap-kerlip bintang tidaklah signifikan. Tetapi, ada kala juga ketika masyarakat di peradaban masa kuno menemukan adanya bintang yang kerlap-kerlipnya jauh melebihi yang biasa mereka lihat. Bahkan, mereka yakin apa yang mereka amati adalah bintang baru yang semula tidak ada di sana. Perubahan kecerlangan bintang sudah sejak lama menarik keingintahuan manusia. Di era modern, dengan teknologi yang lebih canggih, kita saat ini paham bahwa, selain dari efek atmosfer, ada juga bintang yang memang berubah kecerlangannya. Bintang-bintang tersebut, yang sekarang dinamakan sebagai bintang variabel, juga bervariasi jenisnya bergantung pada apa yang menyebabkan perubahan mereka. Variabilitas kecerlangan tersebut menjadi jendela informasi astronom untuk melihat dan memprediksi riwayat hidup bintang. Terlepas dari peran bintang variabel dalam pemahaman alam semesta, bintang dan langit tidak berhenti menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang. Pengamatan bintang variabel pun merangkul dan memberikan kesempatan astronom amatir untuk ikut berkontribusi dalam mengembangkan ilmu astronomi.

Narasumber:
  • Evan Irawan Akbar, M.Si
  • Muhammad Yusuf, S.Si
Episode 05 - Jejak Kehidupan di Alam Semesta
Sabtu, 28 Agustus 2021

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, keingintahuan manusia tentang dirinya sendiri menjadi semakin besar. Bersamaan dengan itu, berbagai misi antariksa telah berhasil mengorbit atau mendarat di planet lain lalu mempelajarinya secara mendetail. Sejauh ini, belum ditemukan adanya makhluk hidup yang mirip dengan manusia. Hal ini memunculkan berbagai pertanyaan: apakah jenis kehidupan yang kita kenal di Bumi adalah satu-satunya di alam semesta? Apakah ada kehidupan yang lebih maju dibandingkan kehidupan yang ada di Bumi? Untuk menjawab pertanyaan itu, terlebih dulu harus diputuskan dari mana kita mulai mencari. Dengan berbekal pengetahuan tentang kehidupan yang kita kenal di Bumi, astronom menentukan hal apa yang paling esensial bagi keberadaan kehidupan, beberapa di antaranya adalah keberadaan rantai karbon sebagai basis dari DNA dan air dalam bentuk cair. Pencarian dilakukan di berbagai tempat; dari planet lain di Tata Surya, asteroid, satelit planet, hingga sistem keplanetan di luar Tata Surya (eksoplanet). Walaupun penelitian ini tentunya akan memakan waktu yang lama, hasil yang didapatkan kemungkinan besar akan sangat berpengaruh bagi cara manusia memandang dirinya sendiri dan alam semesta.

Narasumber:
  • Prof. Dr. Taufiq Hidayat, DEA
  • Agus Triono P. J., M.Si
  • Zulkarnain
Episode 04 - Mengenal Gugus Bintang
Sabtu, 7 Agustus 2021

Penelitian terbaru tentang proses kelahiran bintang menunjukkan bahwa hampir semua bintang dilahirkan berpasangan dalam awan molekuler. Walaupun begitu, beberapa bintang (termasuk Matahari kita) mengalami gangguan yang menyebabkan bintang tersebut terpisah dari pasangannya beberapa waktu setelah lahir, sehingga terbentuklah bintang tunggal. Pasangan yang terbentuk saat proses kelahiran bintang tidak hanya terdiri atas satu atau dua bintang, namun bisa berjumlah ratusan dan bahkan ribuan. Anggota kelompok bintang ini tentunya memiliki properti yang serupa satu sama lain karena lahir bersamaan pada dari awan molekuler yang sama. Oleh karena itu, kelompok bintang ini dapat digunakan untuk mempelajari banyak hal, misalnya terkait lingkungan tempat pembentukan, karakteristik anggota, maupun digunakan sebagai alat untuk memetakan objek dengan skala yang lebih besar (galaksi).

Narasumber:
  • Dr. Chatief Kunjaya
  • Agus Triono P. J., M.Si
  • Zulkarnain
Episode 03 - Galaksi Bima Sakti dari Masa ke Masa
Sabtu, 12 Juni 2021

Sebagai galaksi rumah tempat kita berada, tidak mengherankan bila Bima Sakti merupakan galaksi yang paling banyak dipelajari secara mendalam detail. Dimulai dengan usaha pemetaan oleh Herschel di abad ke-18 dan penelusuran ukuran galaksi dengan studi gugus bola oleh Shapley di awal abad ke-12, kini, teknologi pengamatan mengijinkan untuk mendapatkan sensus posisi, gerak, warna, dan sifat bintang-bintang dengan ketelitian yang tinggi. Misi GAIA yang merupakan kolaborasi dari negara-negara Eropa telah berhasil menghasilkan pengukuran 1,5 miliar bintang di galaksi kita, hampir 1% dari jumlah bintang yang diperkirakan mengisi galaksi kita. Jumlah dan tingkat presisi pengukuran ini memberikan gambaran yang lebih baik akan bentuk, dinamika serta evolusi galaksi kita.

Narasumber:
  • Dr. rer. nat. Hesti Retno T. Wulandari
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
  • Zulkarnain
Episode 02 - Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021
Rabu, 26 Mei 2021

Pada 26 Mei 2021, masyarakat di seluruh Indonesia akan berkesempatan untuk mengamati fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). Di wilayah Bandung dan sekitarnya, gerhana akan dimulai pada pukul 15:48 WIB dan akan masuk menuju fase totalitas pada pukul 18:19 WIB saat Bulan baru terbit di Timur. Kita dapat menyaksikan proses gerhana hingga selesai pada pukul 20:50 WIB. Pada PVLM episode kedua tahun 2021 ini, kami akan mengajak masyarakat Indonesia melihat bagaimana proses gerhana Bulan diamati melalui teleskop di Observatorium Bosscha.

Narasumber:
  • Ferry M. Simatupang, M.Si
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
  • Andreas Christian Louk, M.Sc
  • Zulkarnain
Episode 01 - Kabar Terkini Astronomi
Jumat, 9 April 2021

Astronomi sebagai cabang sains murni mendapat banyak bantuan dari teknologi dalam usaha memahami alam semesta. Meskipun begitu, tidak jarang lompatan teknologi terjadi karena dipicu oleh kebutuhan astronomi. Dua tahun belakangan ini kita melihat ada banyak peristiwa menarik terkait penemuan, peristiwa astronomi, dan usaha eksplorasi astronomi. Mengawali musim baru PVLM, pada episode perdana ini penonton akan diajak melihat capaian astronomi di tahun 2020 dan 2021. Kita kembali menengok apa yang terjadi dengan meredupnya bintang Betelgeuse, arti hadiah Nobel Fisika 2020 bagi Astrofisika, penemuan magnetar, babak baru eksplorasi Planet Mars, dan foto terbaru lubang hitam M87. Narasumber akan mengajak penonton menguak sains dan teknologi apa saja yang terlibat serta rencana dan harapan apa yang ada di depan termasuk peluangnya bagi astronomi Indonesia.

Narasumber:
  • Premana W. Premadi, Ph.D
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 13 - Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Pengamatan Bintang Ganda
Sabtu, 31 Oktober 2020

Observatorium Bosscha dikenali dari salah satu bangunannya yang berbentuk kubah (Koepel, dalam bahasa Belanda). Bangunan ini menyimpan sejarah yang panjang dari Observatorium Bosscha, mulai dari awal pembangunannya yang dipegang oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) hingga pengelolaannya yang kini dilakukan oleh ITB. Di dalam kubah ini, terdapat teleskop ganda, dinamai sebagai Refraktor Ganda Zeiss, yang mulai beroperasi pada 1928. Instrumen ini terdiri dari dua buah teleskop yang kedua lensa objektifnya terpisah dan dipasang secara paralel di dalam sebuah tabung. Menariknya, teleskop ini merupakan salah satu teleskop terbesar pada masanya, terlebih lagi berada di belahan selatan Bumi. Apakah yang sesungguhnya melatarbelakangi pembangunan Teleskop Ganda Zeiss dan bagaimanakah pemanfaatannya hingga kini?

Narasumber:
  • Premana W. Premadi, Ph.D.
  • Agus Triono P.J., M.Si.
Episode 12 - Observasi Planet dari Masa ke Masa
Sabtu, 24 Oktober 2020

Sejak dahulu kala, nenek moyang kita sudah mengenal adanya planet di langit. Meski begitu, mereka tidak mengetahui bentuk dan fitur permukaan dari planet karena keterbatasan instrumen observasi. Seiring berjalannya waktu, instrumen untuk mengamati objek agar terlihat lebih besar perlahan mulai ditemukan, biasanya digunakan untuk melihat objek darat (disebut spyglass). Hingga akhirnya pada tahun 1610, untuk pertama kalinya instrumen tersebut diarahkan ke langit oleh Galileo Galilei. Dengan menggunakan instrumen rakitannya sendiri, Galileo berhasil mengamati fitur permukaan Bulan dengan cukup baik, bahkan gunung dan kawah Bulan dapat terlihat. Tak hanya Bulan, Galileo juga mengarahkan teleskopnya ke Saturnus dan Jupiter sehingga tampak objek pendamping di sekitar planet. Temuan Galileo ini telah membuka jalan untuk perkembangan instrumen observasi dan menyumbang pengetahuan tentang Tata Surya kita . Dengan berbagai perkembangan instrumen yang terjadi hingga kini, bagaimana kita mempelajari planet-planet penyusun Tata Surya?

Narasumber:
  • Evan Irawan Akbar, M.Si.
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 11 - Asteroid
Sabtu, 17 Oktober 2020

Pada awal pembentukan Tata Surya, sebelum Bumi dan planet lainnya terbentuk, awan debu dan gas raksasa mengitari calon Matahari. Partikel debu yang berada di piringan saling bertumbukan satu sama lain sehingga membentuk batuan yang lebih besar. Akhirnya mereka menjadi planet seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, ada pula batuan kecil di Tata Surya yang tak pernah berevolusi atau hanya sedikit sekali perubahannya, seperti asteroid. Asteroid dikenal dengan dampaknya yang menghancurkan kehidupan dinosaurus di masa lampau. Apakah asteroid hanya berdampak buruk saja? Adakah manfaat yang dapat manusia rasakan? Hingga kini, berbagai survei asteroid terus dilakukan untuk menjawab keingintahuan manusia.

Narasumber:
  • Dr. Judhistira Aria Utama
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 10 - Langit dalam Budaya Nusantara
Sabtu, 10 Oktober 2020

Kehidupan nenek moyang manusia tak lepas dari pandangannya terhadap langit. Mereka memanfaatkan langit untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti bercocok tanam, melaut, acara keagamaan/adat, dll. Dengan bergantinya zaman, pemanfaatan langit pun tidak seperti dahulu. Dalam pembahasan kali ini, akan dipaparkan bagaimana koneksi manusia dengan langit malam telah berevolusi. Dengan mengamati langit malam, bagaimana nenek moyang kita mengumpulkan informasi dan memanfaatkan pengetahuan yang telah dikumpulkan untuk digunakan sebagai panduan hidup. Perkembangan teknologi telah membantu manusia untuk dapat melihat lebih banyak dan lebih dalam. Koleksi pengetahuan dan metodologi saintifik telah membantu dalam mengungkap alam semesta. Di masa modern dengan kemajuan iptek apakah masih relevan mengamati langit malam dengan mata? Apakah hanya kita saja spesies yang melihat langit malam?

Narasumber:
  • Drs. Widya Sawitar
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 09 - Materi Gelap
Sabtu, 3 Oktober 2020

Berbagai bukti pengamatan astronomis mengindikasikan bahwa materi di alam semesta didominasi oleh materi gelap (dark matter), yaitu materi yang tidak memancarkan atau menyerap radiasi elektromagnetik seperti materi normal. Hal ini disimpulkan antara lain dari pengamatan gerak bintang-bintang dan gas di galaksi-galaksi, gerak galaksi-galaksi dalam gugus-gugus galaksi, pelensaan gravitasi, radiasi latar belakang mikro, maupun pembentukan struktur skala besar di alam semesta. Berbagai kandidat untuk materi gelap telah diusulkan, begitu pula upaya untuk mendeteksi partikel materi gelap secara langsung. Namun hingga kini partikel penyusun materi gelap belum terdeteksi dan sifat-sifatnya masih merupakan misteri. Meskipun demikian studi dan pencarian materi gelap terus dilakukan dan menjadi tantangan yang penting untuk diselesaikan bagi kosmologi modern, karena pemahaman mengenai materi gelap ini sangat krusial bagi pemahaman kita mengenai isi dan evolusi alam semesta secara keseluruhan.

Narasumber:
  • Dr. rer. nat. Hesti Wulandari
  • Agus Triono P.J., M.Si.
Episode 08 - Eksplorasi Bulan
Sabtu, 26 September 2020

Bulan merupakan objek paling terang di langit malam. Keberadaannya selalu mendapatkan tempat tersendiri dalam imajinasi kita dan kehidupan sehari-hari. Bulan pun merupakan objek angkasa terdekat yang dapat kita kagumi. Kemudian berbagai pertanyaan muncul dalam benak manusia, mengapa Bulan terang? apa yang terdapat di permukaan, bahkan interior Bulan? bagaimana mengetahui itu semua? apakah mungkin manusia hidup di Bulan?

Narasumber:
  • Ferry M. Simatupang, M.Si.
  • Denny Mandey, M.Si.
Episode 07 - Akhir Hayat Bintang Bermassa Besar
Sabtu, 19 September 2020

Bintang bermassa besar (masif) memiliki waktu ‘hidup’ yang pendek. Matinya sebuah bintang bermassa besar salah satunya melalui ledakan supernova merupakan sebuah fenomena kosmik yang dramatis. Dalam hitungan detik, inti bintang mengalami keruntuhan gravitasi, memicu pembakaran besar-besaran yang melentingkan materi bintang dalam sebuah ledakan dahsyat. Beberapa skenario dapat terjadi sebagai produk akhir dari bintang bermassa besar. ​ Pada episode ini audiens akan diajak mengetahui evolusi lanjut yang terjadi pada bintang-bintang bermassa besar. Apa proses yang mendorong bintang hingga berada pada fase evolusi lanjut ini hingga mekanisme apa yang menghasilkan Supernova, Bintang Neutron dan Lubang Hitam. Apa yang membedakan ketiga hasil akhir ini dan apa yang dapat dipelajari dari objek-objek eksotik ini?

Narasumber:
  • Dr. Hanindyo Kuncarayakti
  • Agus Triono P.J., M.Si.
Episode 06 - Mengenal Awan Antar Bintang
Sabtu, 12 September 2020

Ruang di antara bintang-bintang tidaklah kosong, tanpa materi. Alam semesta dipenuhi oleh debu, debu di mana-mana. Namun, debu antarbintang tentu berbeda dengan debu yang yang kita temui sehari-hari di Bumi. Debu sebagian besar terdiri dari karbonat (dalam bentuk grafit) dan silikat, serta butir individunya dapat dilapisi dengan lapisan es senyawa volatil seperti air beku, amonia atau karbon dioksida. Debu, bersama molekul kompleks lain ditemukan berada di jantung nebula dan bersama-sama membentuk kompleks besar yang dinamakan awan molekular. Massa yang terkandung di awan molekular adalah sekitar seperseribu dari yang terkandung dalam bintang-bintang yang terlihat di sebuah galaksi.

Narasumber:
  • Dr. Lucky Puspitarini
  • Agus Triono P.J., M.Si.
Episode 05 - Jarak dalam Astronomi
Sabtu, 5 September 2020

Astronom mempelajari objek yang tidak bisa disentuh atau didatangi secara langsung. Untuk dapat mengetahui posisi dan jarak sesungguhnya dari kita, dibutuhkan teknik tersendiri untuk mengukurnya. Bagaimana cara astronom mengetahui jarak objek-objek langit? Astronom kerap menyatakan jarak dengan satuan-satuan yang tidak umum, mengapa menggunakan satuan tersebut dan apa sajakah satuan jarak tersebut?

Narasumber:
  • Dr. Anton T. Jaelani
  • Denny Mandey, M.Si.
Episode 04 - Eksoplanet
Sabtu, 29 Agustus 2020

Planet yang mengorbit bintang lain, atau eksoplanet, telah menjadi bidang studi astronomi yang penting selama dua setengah dekade terakhir. Penemuan terbaru dari misi Kepler NASA menunjukkan bahwa hampir setiap bintang yang kita lihat di langit malam mungkin memiliki eksoplanet yang mengorbitnya. Dari 4000 lebih eksoplanet yang telah berhasil dideteksi, adakah planet yang mirip dengan Bumi? Apakah yang dibutuhkan untuk menemukan planet Bumi no.2?

Narasumber:
  • Prof. Dr. Taufiq Hidayat
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 03 - Indahnya Dunia Galaksi
Sabtu, 22 Agustus 2020

Seperti manusia, masing-masing dari miliaran galaksi di alam semesta mengembangkan sifat uniknya sendiri selama masa hidup yang rumit. Apa saja bentuk dan komponen galaksi, bagaimana galaksi terbentuk dan apa yang dapat galaksi ceritakan tentang alam semesta kita?

Narasumber:
  • Premana W. Premadi, Ph.D.
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 02 - Siklus Bintang
Sabtu, 15 Agustus 2020

Pada pertemuan ini pemirsa diajak untuk mendengar cerita tentang siklus hidup bintang, seperti apa daerah pembentuk bintang pada umumnya? Tersusun atas apa? Bagaimana bintang lahir di nebula ini? Bagaimana proses kematian serta peran bintang dalam memperkaya unsur kimia di alam semesta?

Narasumber:
  • Dr. Kiki Vierdayanti
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Episode 01 - Alam Semesta dan Kita
Sabtu, 8 Agustus 2020

Telah lama manusia terpikat oleh pemandangan langit malam yang indah. Pemikiran-pemikiran besar tentang posisi kita di alam semesta telah ada sejak manusia memandang langit malam. Di episode ini kita akan melihat objek apa saja yang mengisi alam semesta dan di mana posisi kita di alam semesta.

Narasumber:
  • Premana W. Premadi, Ph.D
  • Muhammad Yusuf, S.Si.
Ke Atas