90 Tahun Teleskop Refraktor Ganda Zeiss Observatorium Bosscha

Pada tanggal 7 Juni 1928 Pimpinan (NISV), K.A.R. Bosscha secara resmi menyerahkan fasilitas pengamatan astronomi terbesar dan termodern di Asia berupa Teleskop Refractor Ganda buatan Zeiss kepada Nederlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pemajuan sains, terutama sains astronomi, dan untuk mengangkat peran ilmuwan di Nusantara. Penyerahan tersebut disaksikan oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda, A.C.D. de Graeff. Selanjutnya Direktur pertama Observatorium Bosscha, Dr. J.G.E.G. Voute menjalankan program pengamatan yang segera menempatkan kontribusi Observatorium Bosscha pada peta perkembangan sains astronomi dunia. Pengamatan bintang ganda adalah salah satu program yang mendapatkan prioritas atas sejalan dengan lajunya perkembangan pada ilmu fisika bintang saat itu.

Pada dekade-dekade selanjutnya, Observatorium Bosscha mengalami berbagai peralihan status administratif. Sejak tahun 1951 Observatorium Bosscha menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung dan menjalankan amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan berbagai dukungan Observatorium Bosscha terus bekerja keras dalam menyumbangkan hasil pengamatan dan penelitian astronomi kepada pemajuan ilmu astronomi, menyelenggarakan pendidikan tertier astronomi di Indonesia, berinteraksi konstruktif dengan komunitas astronomi internasional, dan memberikan layanan pendidikan untuk masyarakat.

Agar Obsevatorium Bosscha dapat terus berfungsi secara optimal untuk memperoleh data astronomis berkualitas diperlukan kondisi langit yang bersih dan seminimal mungkin terganggu oleh polusi cahaya akibat cahaya lampu yang kurang tertata dengan baik. Seiring dengan perkembangan wilayah urban di sekeliling Lembang, sebagaimana dialami oleh banyak observatorium di dunia, polusi cahaya dan polusi udara telah menjadi tantangan terbesar untuk Observatorium Bosscha.

Untuk memastikan keberlanjutan peran positif Observatorium Bosscha pada perkembangan sains di Indonesia maupun di dunia, maka Institut Teknologi Bandung mengundang upaya kerjasama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat, instansi-instansi terkait, dan masyarakat untuk menjamin perlindungan terhadap kawasan Observatorium Bosscha dari dampak negatif perkembangan urban, dan untuk secara proaktif mengurangi polusi cahaya di kawasan cekungan Bandung melalui aturan-aturan tata cahaya yang akan disiapkan dan ditegakkan. Diharapkan akan adanya aturan yang menjadi pengejawantahan lanjut dari Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang secara eksplisit menyebutkan perlunya melindungi Observatorium Bosscha sebagai kekayaan ilmu pengetahuan, budaya, dan fasilitas bersejarah. Perlindungan dalam bentuk peraturan juga sebagai wujud apresiasi masyarakat, pemerintah, dan institusi terkait pada status Observatorium Bosscha sebagai Cagar Budaya Nasional yang disertifikasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 24 September 2018.

Sebagai catatan penting, kualitas langit yang baik, bersih dari polusi udara dan polusi cahaya, diperlukan secara lebih luas untuk kualitas hidup umat manusia, keanekaragaman hayati, dan kesetimbangan ekosistem, yang merupakan bagian amat penting dari pembangunan berkelanjutan, terutama di Indonesia.

Contact Person:

Premana W. Premadi,
premadi[at]as.itb.ac.id,
(022) 278-6027

File press release bisa diunduh pada tautan berikut.

Berikut adalah video kegiatan peringatan 90 Tahun Refraktor Ganda Zeiss Observatorium Bosscha yang bisa dilihat di Youtube.

Foto-foto kegiatan bisa dilihat pada galeri berikut.

Avatar
Observatorium Bosscha
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam