Program Pengamatan Virtual Langit Malam 2020

Meskipun saat ini kami tutup untuk kunjungan ke lokasi, kami sangat senang dapat menyediakan program pengamatan virtual langit malam yang kami selenggarakan melalui platform virtual meeting Zoom dan juga disiarkan langsung di kanal YouTube kami. Kegiatan ini dirancang untuk 13 kali pertemuan, berlangsung setiap Sabtu malam dan telah dimulai sejak 8 Agustus 2020 silam.

Melalui program daring ini kami berharap dapat menghadirkan konten positif melalui aktivitas yang dapat menjaga semangat dan kegembiraan masyarakat Indonesia, tanpa menghilangkan pengalaman yang sebelumnya didapat dengan berkunjung langsung ke observatorium.

Anda dapat melihat daftar acara yang telah diselenggarakan di halaman ini. Acara yang akan datang akan diumumkan di sini dan media sosial kami beberapa hari sebelum program dimulai. Terima kasih telah bergabung dan menonton.

Arsip

Pilih Watch this video on YouTube jika ada pesan kesalahan dalam memutar video.

Episode 01 - Alam Semesta dan Kita
Episode 02 - Siklus Bintang
Episode 03 - Indahnya Dunia Galaksi

Telah lama manusia terpikat oleh pemandangan langit malam yang indah. Pemikiran-pemikiran besar tentang posisi kita di alam semesta telah ada sejak $\ldots$manusia memandang langit malam. Di episode ini kita akan melihat objek apa saja yang mengisi alam semesta dan di mana posisi kita di alam semesta.

Pada pertemuan ini pemirsa diajak untuk mendengar cerita tentang siklus hidup bintang, seperti apa daerah pembentuk bintang pada umumnya? $\ldots$Tersusun atas apa? Bagaimana bintang lahir di nebula ini? Bagaimana proses kematian serta peran bintang dalam memperkaya unsur kimia di alam semesta?

Seperti manusia, masing-masing dari miliaran galaksi di alam semesta mengembangkan sifat uniknya sendiri selama masa hidup yang rumit. $\ldots$Apa saja bentuk dan komponen galaksi, bagaimana galaksi terbentuk dan apa yang dapat galaksi ceritakan tentang alam semesta kita?

Narasumber:
1. Premana W. Premadi, Ph.D.
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Narasumber:
1. Dr. Kiki Vierdayanti
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Narasumber:
1. Premana W. Premadi, Ph.D.
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Episode 04 - Eksoplanet
Episode 05 - Jarak dalam Astronomi
Episode 06 - Mengenal Awan Antar Bintang

Planet yang mengorbit bintang lain, atau eksoplanet, telah menjadi bidang studi astronomi yang penting selama dua setengah dekade terakhir. Penemuan terbaru dari misi Kepler NASA menunjukkan bahwa hampir setiap bintang $\ldots$yang kita lihat di langit malam mungkin memiliki eksoplanet yang mengorbitnya. Dari 4000 lebih eksoplanet yang telah berhasil dideteksi, adakah planet yang mirip dengan Bumi? Apakah yang dibutuhkan untuk menemukan planet Bumi no.2?

Astronom mempelajari objek yang tidak bisa disentuh atau didatangi secara langsung. Untuk dapat mengetahui posisi dan jarak sesungguhnya dari kita, dibutuhkan teknik tersendiri untuk mengukurnya. $\ldots$Bagaimana cara astronom mengetahui jarak objek-objek langit? Astronom kerap menyatakan jarak dengan satuan-satuan yang tidak umum, mengapa menggunakan satuan tersebut dan apa sajakah satuan jarak tersebut?

Ruang di antara bintang-bintang tidaklah kosong, tanpa materi. Alam semesta dipenuhi oleh debu, debu di mana-mana. Namun, debu antarbintang tentu berbeda dengan debu yang yang kita temui sehari-hari di Bumi. $\ldots$Debu sebagian besar terdiri dari karbonat (dalam bentuk grafit) dan silikat, serta butir individunya dapat dilapisi dengan lapisan es senyawa volatil seperti air beku, amonia atau karbon dioksida. Debu, bersama molekul kompleks lain ditemukan berada di jantung nebula dan bersama-sama membentuk kompleks besar yang dinamakan awan molekular. Massa yang terkandung di awan molekular adalah sekitar seperseribu dari yang terkandung dalam bintang-bintang yang terlihat di sebuah galaksi.

Narasumber:
1. Prof. Dr. Taufiq Hidayat
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Narasumber:
1. Dr. Anton T. Jaelani
2. Denny Mandey, M.Si.

Narasumber:
1. Dr. Lucky Puspitarini
2. Agus Triono P.J., M.Si.

Episode 07 - Akhir Hayat Bintang Bermassa Besar
Episode 08 - Eksplorasi Bulan
Episode 09 - Materi Gelap

Bintang bermassa besar (masif) memiliki waktu 'hidup' yang pendek. Matinya sebuah bintang bermassa besar salah satunya melalui ledakan supernova merupakan sebuah fenomena kosmik yang dramatis. Dalam hitungan detik, $\ldots$inti bintang mengalami keruntuhan gravitasi, memicu pembakaran besar-besaran yang melentingkan materi bintang dalam sebuah ledakan dahsyat. Beberapa skenario dapat terjadi sebagai produk akhir dari bintang bermassa besar. ​ Pada episode ini audiens akan diajak mengetahui evolusi lanjut yang terjadi pada bintang-bintang bermassa besar. Apa proses yang mendorong bintang hingga berada pada fase evolusi lanjut ini hingga mekanisme apa yang menghasilkan Supernova, Bintang Neutron dan Lubang Hitam. Apa yang membedakan ketiga hasil akhir ini dan apa yang dapat dipelajari dari objek-objek eksotik ini?

Bulan merupakan objek paling terang di langit malam. Keberadaannya selalu mendapatkan tempat tersendiri dalam imajinasi kita dan kehidupan sehari-hari. Bulan pun merupakan objek angkasa terdekat yang dapat kita kagumi. $\ldots$Kemudian berbagai pertanyaan muncul dalam benak manusia, mengapa Bulan terang? apa yang terdapat di permukaan, bahkan interior Bulan? bagaimana mengetahui itu semua? apakah mungkin manusia hidup di Bulan?.
Modul Bulan bisa diunduh di sini .

Berbagai bukti pengamatan astronomis mengindikasikan bahwa materi di alam semesta didominasi oleh materi gelap (dark matter), yaitu materi yang tidak memancarkan atau menyerap radiasi elektromagnetik seperti materi normal. $\ldots$Hal ini disimpulkan antara lain dari pengamatan gerak bintang-bintang dan gas di galaksi-galaksi, gerak galaksi-galaksi dalam gugus-gugus galaksi, pelensaan gravitasi, radiasi latar belakang mikro, maupun pembentukan struktur skala besar di alam semesta. Berbagai kandidat untuk materi gelap telah diusulkan, begitu pula upaya untuk mendeteksi partikel materi gelap secara langsung. Namun hingga kini partikel penyusun materi gelap belum terdeteksi dan sifat-sifatnya masih merupakan misteri. Meskipun demikian studi dan pencarian materi gelap terus dilakukan dan menjadi tantangan yang penting untuk diselesaikan bagi kosmologi modern, karena pemahaman mengenai materi gelap ini sangat krusial bagi pemahaman kita mengenai isi dan evolusi alam semesta secara keseluruhan.

Narasumber:
1. Dr. Hanindyo Kuncarayakti
2. Agus Triono P.J., M.Si.

Narasumber:
1. Ferry M. Simatupang, M.Si.
2. Denny Mandey, M.Si.

Narasumber:
1. Dr. rer. nat. Hesti Wulandari
2. Agus Triono P.J., M.Si.

Episode 10 - Langit dalam Budaya Nusantara
Episode 11 - Asteroid
Episode 12 - Observasi Planet dari Masa ke Masa

Kehidupan nenek moyang manusia tak lepas dari pandangannya terhadap langit. Mereka memanfaatkan langit untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti bercocok tanam, melaut, acara keagamaan/adat, dll. Dengan bergantinya zaman, pemanfaatan langit pun tidak seperti dahulu. $\ldots$Dalam pembahasan kali ini, akan dipaparkan bagaimana koneksi manusia dengan langit malam telah berevolusi. Dengan mengamati langit malam, bagaimana nenek moyang kita mengumpulkan informasi dan memanfaatkan pengetahuan yang telah dikumpulkan untuk digunakan sebagai panduan hidup. Perkembangan teknologi telah membantu manusia untuk dapat melihat lebih banyak dan lebih dalam. Koleksi pengetahuan dan metodologi saintifik telah membantu dalam mengungkap alam semesta. Di masa modern dengan kemajuan iptek apakah masih relevan mengamati langit malam dengan mata? Apakah hanya kita saja spesies yang melihat langit malam?

Pada awal pembentukan Tata Surya, sebelum Bumi dan planet lainnya terbentuk, awan debu dan gas raksasa mengitari calon Matahari. Partikel debu yang berada di piringan saling bertumbukan satu sama lain sehingga membentuk batuan yang lebih besar.$\ldots$ Akhirnya mereka menjadi planet seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, ada pula batuan kecil di Tata Surya yang tak pernah berevolusi atau hanya sedikit sekali perubahannya, seperti asteroid. Asteroid dikenal dengan dampaknya yang menghancurkan kehidupan dinosaurus di masa lampau. Apakah asteroid hanya berdampak buruk saja? Adakah manfaat yang dapat manusia rasakan? Hingga kini, berbagai survei asteroid terus dilakukan untuk menjawab keingintahuan manusia.

Sejak dahulu kala, nenek moyang kita sudah mengenal adanya planet di langit. Meski begitu, mereka tidak mengetahui bentuk dan fitur permukaan dari planet karena keterbatasan instrumen observasi. Seiring berjalannya waktu, instrumen untuk mengamati objek agar terlihat lebih besar perlahan mulai ditemukan, biasanya digunakan untuk melihat objek darat (disebut spyglass). $\ldots$Hingga akhirnya pada tahun 1610, untuk pertama kalinya instrumen tersebut diarahkan ke langit oleh Galileo Galilei. Dengan menggunakan instrumen rakitannya sendiri, Galileo berhasil mengamati fitur permukaan Bulan dengan cukup baik, bahkan gunung dan kawah Bulan dapat terlihat. Tak hanya Bulan, Galileo juga mengarahkan teleskopnya ke Saturnus dan Jupiter sehingga tampak objek pendamping di sekitar planet. Temuan Galileo ini telah membuka jalan untuk perkembangan instrumen observasi dan menyumbang pengetahuan tentang Tata Surya kita . Dengan berbagai perkembangan instrumen yang terjadi hingga kini, bagaimana kita mempelajari planet-planet penyusun Tata Surya?

Narasumber:
1. Drs. Widya Sawitar
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Narasumber:
1. Dr. Judhistira Aria Utama
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Narasumber:
1. Evan Irawan Akbar, M.Si.
2. Muhammad Yusuf, S.Si.

Episode 13 - Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Pengamatan Bintang Ganda

Observatorium Bosscha dikenali dari salah satu bangunannya yang berbentuk kubah (Koepel, dalam bahasa Belanda). Bangunan ini menyimpan sejarah yang panjang dari Observatorium Bosscha, mulai dari awal pembangunannya yang dipegang oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) $\ldots$ hingga pengelolaannya yang kini dilakukan oleh ITB. Di dalam kubah ini, terdapat teleskop ganda, dinamai sebagai Refraktor Ganda Zeiss, yang mulai beroperasi pada 1928. Instrumen ini terdiri dari dua buah teleskop yang kedua lensa objektifnya terpisah dan dipasang secara paralel di dalam sebuah tabung. Menariknya, teleskop ini merupakan salah satu teleskop terbesar pada masanya, terlebih lagi berada di belahan selatan Bumi. Apakah yang sesungguhnya melatarbelakangi pembangunan Teleskop Ganda Zeiss dan bagaimanakah pemanfaatannya hingga kini?

Narasumber:
1. Premana W. Premadi, Ph.D.
2. Agus Triono P.J., M.Si.

Materi

Episode Pembicara Judul
01
02
03 Dr. Kiki Vierdayanti Siklus Hidup Bintang Unduh
04 Prof. Dr. Taufiq Hidayat Eksoplanet Unduh
05 Dr. Anton T. Djaelani Jarak Dalam Astronomi Unduh
06 Dr. Lucky Puspitarini Mengenal Materi Antar Bintang Unduh
07 Dr. Hanindyo Kuncarayakti Akhir Hayat Bintang Bermassa Besar Unduh
08
09
10
11 Dr. Judhistira Aria Utama Asteroid Unduh
12 Evan Irawan Akbar, M.Si Observasi Planet Unduh
13
Selanjutnya