Bosscha Observatory - Institut Teknologi Bandung


Penentuan Awal Syawal 1432 H
Bagi umat Islam, kepastian awal bulan Islam yang unik dalam penanggalan Islam/Hijriah akan menghilangkan keraguan dalam pelaksanaan ibadah shaum pertengahan bulan, shaum Ramadlan, pelaksanaan pembagian zakat Fitrah, pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Pendek kata “kepastian awal bulan Islam yang unik” akan  membuat kenyamanan dalam kehidupan bernegara, terutama untuk menjadualkan hari libur dan kegiatan besar masyarakat Indonesia. Awal Syawal bagi masyarakat Indonesia merupakan acara libur besar, acara mudik dan silaturahmi sering mengacu pada awal Syawal, begitupula  pengurus – pengurus masjid penyelenggara shalat Ied,  pelaksana pembagian zakat fitrah dan agenda “open house” kenegaraan atau pejabat.

Di Indonesia pemerintah menetapkan awal bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah dengan cara Hisab dan Rukyat dalam sidang itsbat. Keduanya, kompilasi perhitungan/Hisab dari berbagai kalangan ahli dipaparkan dan hasil Rukyat dijadikan pertimbangan dalam penetapan awal bulan Islam tersebut dalam sidang itsbat. Sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama RI pada tanggal 31 Juli 2011 telah menetapkan tanggal 1 Ramadlan 1432 H jatuh pada tanggal 1 Agustus 2011.

Keputusan itu sesuai dengan Taqwim Standart Indonesia dan juga Ormas Islam Muhammadiah. Hasil pengamatan hilal di wilayah Indonesia oleh tim pemburu hilal yang dikoordinasikan oleh Kementrian KomInfo dan Observatorium Bosscha ITB, berhasil mengamati dan merekam citra hilal awal Ramadlan 1432 H di Bangkalan Madura pada tanggal 31 Juli 2011. 

Laporan keberhasilan pengamatan hilal  dari beberapa tempat pengamatan hilal di Indonesia juga menjadi masukkan. Walaupun perlu dicatat bahwa terdapat laporan keberhasilan pengamatan hilal di mall GTC Makassar, kemungkinan terdapat  kekeliruan citra obyek dalam teleskop bukan citra hilal, pointing teleskop kemungkinan salah dan teleskop menangkap citra obyek lain yang tidak focus.

Awal Ramadlan  1432 H dalam kalendar Taqwim Standar Indonesia bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 2011 dan dibuktikan dengan adanya sosok hilal sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah hari dalam bulan Sya’ban 1432 H hanya 29 hari, pengamatan hilal awal Sya’ban 1432 H berhasil diamati di bukit Panjebolan –  Observatorium Bosscha 2 Juli 2011, maghrib 17:47 wib. Keberhasilan itu menetapkan awal Sya’ban 1432 H bertepatan dengan tanggal  3 Juli 2011 atau  tanggal 2 Juli 2011 setelah maghrib.  Tanggal tersebut sesuai juga dengan kalendar Taqwim Standar Indonesia.

Umat Islam Indonesia secara serempak  memulai shaum Ramadlan 1432 H dengan awal Ramadlan 1432 H jatuh pada tanggal 1 Agustus 2011.  Kini pertanyaan  umat Islam kembali tentang lama shaum Ramadlan 1432 H  29 hari atau 30 hari?  Sebuah pengumuman ormas Islam Muhammadiah telah menetapkan awal Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011, yang berarti shaum Ramadlan 1432 H hanya 29 hari, sehari lebih cepat dari kalendar Taqwim Standar Indonesia.  Mengapa terjadi demikian? Ijtimak akhir Ramadlan 1432 H akan berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2011 pukul 10:04 wib, pada saat itu kedudukan Bulan dan Matahari pada bujur ekliptika yang sama, pada saat itu  Bulan tidak nampak di langit, Bulan dekat dengan Matahari yang sangat terang. Pada saat Mataahri terbenam tanggal 29 Agustus 2011, di seluruh wilayah Indonesia tinggi Bulan antara 1 derajat sampai  2  derajat.  Bagi kriteria Wudjudul Hilal, kondisi tersebut sudah dianggap cukup sebagai tanda memasuki awal bulan Islam, sehingga memutuskan tanggal 30 Agustus 2011 sebagai tanggal 1 Syawal 1432 H, seperti yang ditetapkan oleh ormas Islam Muhammadiah. 

Kondisi kedudukan Bulan dan Matahari pada tanggal 29 Agustus tersebut tidak memungkinkan adanya hilal, (kondisi cahaya senja masih terlalu terang dan sabit Bulan terlalu tipis untuk ukuran lensa mata manusia)  walaupun menggunakan teleskop pemandu. Jadi hilal kemungkinan besar tidak bisa diamati baik dengan mata bugil maupun dengan bantuan teleskop, berarti awal Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011.
Sidang itsbat akan berlangsung pada hari Senin, tanggal 29 Agustus 2011. Sidang tersebut menetapkan apakah Ramadlan 1432 H terdiri dari 29 hari atau 30 hari ? atau menetapkan 1 Syawal 1432 H atau hari Lebaran 1432 H jatuh pada tanggal 30 atau 31 Agustus 2011?. Sidang itsbat tersebut perlu disimak, karena akan memberi kepastian dalam penetapan awal Syawal 1432 H, penetapan awal Syawal tersebut atas pertimbangan hasil hisab dan rukyat dalam sidang yang akan dihadiri oleh para ahli Hisab dan Rukyat.

Tim rukyat departemen agama, tim rukyat ormas Islam, tim rukyat Kementrian KomInfo dan Observatorium Bosscha FMIPA ITB akan melakukan rukyat di wilayah Indonesia. Tim rukyat yang dikoordinasikan oleh Kementrian KomInfo dan Observatorium Bosscha FMIPA ITB melibatkan beberapa perguruan tinggi (UIN, UNHAS,ITB,UPI), LAPAN, Rukyatul Hilal Indonesia (RHI), DepAg dilengkapi dengan teleskop dilakukan di beberapa tempat antara lain bukit  Bela Belu DIY (RHI+ tim KomInfo+ Bosscha),  Kupang, Lhoknga Aceh,  Medan, UPI Bandung,  Pontianak,  Biak,  Bangkalan Madura,  Makassar,  Lampung,  Pekanbaru,  Pameungpeuk dan  Mataram.

Pada hari Senin, tanggal 29 Agustus 2011 kondisi Bulan pada saat Matahari terbenam masih terlalu muda dan terlalu rendah untuk bisa dilihat dengan mata bugil. Ijtimak akhir Ramadlan 1432 H akan berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2011 pukul 10:04 wib, umur Bulan pada saat Matahari terbenam antara 5 jam (di wilayah Indonesia Timur) hingga 8 jam 40 menit (di wilayah Indonesia Barat). Kondisi pengamatan hilal dalam kondisi langit cerah, bisa berhasil melihat hilal bila usia sabit Bulan sekitar 10.8 hingga 11.1 jam untuk kondisi planit Bumi terjauh dari Matahari dan usia sabit Bulan sekitar 11.5 hingga 13.4  jam untuk kondisi planit Bumi terdekat dari Matahari atau kondisi minimal tinggi Bulan 5 derajat hingga 5.5 derajat.

Pada tanggal 29 Agustus 2011 tersebut sejak Matahari terbenam Bulan hanya sempat di amati dalam rentang antara 5 menit  hingga 8 menit di atas ufuq sebelum terbenam, kedudukan Bulan sedikit di utara Matahari terbenam. Di posisi Bulan tersebut cahaya senja masih sangat terang dibanding dengan cahaya sabit Bulan yang tipis. Selain itu dalam keadaan cerah sekalipun serapan angkasa Bumi terhadap cahaya hilal sangat besar bisa mereduksi hingga 60%  cahaya Bulan/Hilal. Analisa kondisi Bulan tersebut maka “hilal” tergolong yang mustahil untuk berhasil diamati dengan mata bugil. Jadi kemungkinan besar kalau cara Hisab dan Rukyat diterapkan dengan cermat/seksama dan mengacu pada ukuran sabit Bulan yang bisa di lihat oleh mata bugil manusia maka 1 Syawal 1432 H akan bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 2011 setelah maghrib, shalat tarawih berakhir dan shalat Ied hari Rabu 31 Agustus 2011. 

Sikap saling menghargai antar umat Islam atas adanya penetapan awal Bulan Islam  yang berbeda  merupakan sikap bijak umat Islam. Langkah dan sikap umat Islam yang perlu dibangun ke depan adalah mencari “Hilal Persatuan” sebagai milik  umat Islam Indonesia, wujud keinginan penyatuan Kalendar Islam di Indonesia maupun seluruh dunia.  Selamat ber Idul Fitri 1432 H, mohon maaf lahir batin, semoga sukses di dunia dan di akherat.

Bandung, 26 Ramadhan 1432 H, 26 Agustus 2011
Dr. Moedji Raharto
Ketua Kelompok Keahlian Astronomi
FMIPA ITB